Perbedaan Hotel Syariah dengan Hotel Konvensional

Dolanku.com - Perbedaan hotel syariah dengan non syariah bukan cuma terletak pada tampilan. Lebih dari itu, nilai-nilai dan prinsip hidup Islam benar-benar ditegakkan secara utuh. Suasana Islami bukanlah basa-basi tapi benar-benar dihayati.


Hotel konvensional lebih bebas ketimbang hotel syariah. Sebab tidak ada aturan-aturan tambahan yang ketat mengikat. Adapun hotel syariah semua aspek bisnisnya harus berdasarkan hukum Islam. Dari hulu ke hilir tak boleh ada celah haram.


Termasuk masalah pendanaan atau modal pendirian perusahaan yang menaungi hotel. Wajib dipastikan tidak menggunakan uang haram untuk merintis, membangun, hingga pengembangan bisnis. Intinya peredaran uang harus berdasar prinsip syariah.

Ilustrasi hotel syariah (sumber gambar)

Perbedaan mencolok hotel syariah dengan non syariah yaitu lawan jenis bukan suami-istri dilarang menginap satu kamar. Bahkan ada penginapan syariah yang mengatur lebih ketat. Yakni, lantai khusus wanita disendirikan. Biasanya terletak di lantai bawah.


Jangan berharap ada hiburan dangdut, bar, pub, maupun spa bebas di hotel syariah. Kalau mau mendapatkan hiburan mungkin berupa suara bacaan Al Quran, nasyid, serta lagu religi. Barangkali hotel syariah difokuskan untuk istirahat dan menginap.


Waspada Hotel Syariah Abal-abal

Kini keberadaan hotel syariah begitu menjamur. Hal itu wajar sebab untuk mengimbangi makin banyaknya wisata halal. Kendati seperti itu, terdapat hotel syariah nakal. Mengaku sebagai hotel berbasis Islam tapi nyatanya cuma nama atau slogan.


Baca juga: Perbedaan Wisata Syariah dengan Wisata Religi


Hotel syariah abal-abal biasanya menerapkan nilai-nilai Islam pada manajemennya dengan setengah-setengah. Bahkan tak memudahkan bagi umat Islam untuk beraktivitas sesuai ajaran agama. Misalnya, Musholla ukuran kecil ditambah lokasinya terpencil dan dekat gudang.


Baca juga: 7 Kelebihan Hotel Syariah Dibanding Penginapan Konvensional


Jangan heran saat ditemui hotel syariah tapi arah kloset atau WC menghadap maupun membelekangi klibat. Tentu itu sangat menyalahi etika Islam. Kadang pula petugas kebersihan hotel tidak begitu memperdulikan najis dan suci.


Diksi syariah dan halal acapkali dikomersialisasi oleh pengusaha. Agar menarik minat calon konsumen dari masyarakat mayoritas Islam. Padahal isi atau dalamnya hampir sama saja dengan konsep selain syariah. Label syariah cuma untuk kedok menipu.


Penggunaan istilah syariah dan halal biasanya juga dieksploitasi untuk memuluskan perizinan ke pemerintah. Serta tentunya izin pada masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Islam jadi lancar. Mereka tak perlu khawatir daerahnya digunakan maksiat.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

5 Perbedaan Tour Leader dengan Tour Guide

Arti Kata "Dolanku", Ternyata Ada di KBBI

Berwisata Ria di Lapangan Rampal Kota Malang

5 Manfaat Berwisata di Air Terjun

5 Macam Wisata Religi dalam Agama Islam