2 Bentuk Kecurangan Pedagang Makanan pada Pelancong

Dolanku.com - Berbohong merupakan salah satu bentuk kecurangan para penjual makanan. Tak cuma itu, memanipulasi psikologi pembeli terkadang juga dilakukan. Tujuannya tentu ingin meraih untung lebih besar.


Pedagang makanan nakal biasanya tak serta merta "memukul" pengunjung kedai miliknya. Tidak sembarangan orang bakal dijadikan korban dan target. Pilih-pilih dan melihat dulu bagaimana kondisi calon pelanggannya tersebut.


Pengunjung yang terlihat lapar, butuh makan, dan terburu-buru akan jadi sasaran empuk kaum penjual culas. Ada pula tatkala bukan terlihat warga lokal tak luput dari incaran. Apalagi ketika warung dalam keadaan sepi serta tanpa mencantumkan daftar harga makanan. 


Berikut ini dua di antara bentuk kecurangan penjual makanan di antaranya yaitu:


1. Berbohong Tak Punya Uang Kembalian

Pedagang yang mengaku tak punya uang kembali biasanya berharap dapat pemberian uang cuma-cuma. Setidaknya pembeli tersebut mau tambah jumlah makanan yang dibeli dari uang kembalian. Padahal sebenarnya pembeli tak ada niat menambah.


Sungguh meresahkan pedagang yang tak punya uang kembalian. Baik itu yang memang benar tak memiliki duit receh maupun yang berbohong demi mulusnya bisnis. Oleh sebab itu, lebih baik sebelum beli siapkan uang kecil.


Para generasi sebelum tahun 1990 pasti pernah mendapat permen dari penjual sebagai ganti uang kembalian. Itu biasanya terjadi di kantin sekolah. Hal tersebut masih mending. Kalau nilai uang kembalian besar tentu pembeli "dipaksa" beli gorengan atau malahan menambah jumlah pesanan.

Ilustrasi penjual gorengan (sumber gambar)


2. Menunda Penyajian Masakan

Pelancong yang menuju rumah makan biasanya dalam kondisi butuh makan. Bukan sekadar nongkrong dan berteduh. Bahkan mengalami kelaparan karena perut kosong. Inilah yang dijadikan kesempatan pemilik warung untuk menunda penyajian.


Biasanya di atas meja atau menempel di dinding ada beberapa jenis makanan ringan. Baik itu bungkusan plastik maupun jajanan basah. Nah, sambil menunggu makanan utama tersaji diharapkan pengunjung mau mengambil dulu panganan di depan mata sebagai pengganjal.


Parahnya, harga gorengan dan kerupuk sebagai hidangan pembuka itu harganya mahal. Saat selesai makan, pembeli kaget setelah totalan ternyata harganya "melangit". Warung seperti ini biasanya terletak di dekat bandara, stasiun, dan terminal.


Guna mengantisipasi hal di atas terjadi sebaiknya bawa cemilan ketika melakukan perjalanan. Carilah rumah makan secara leluasa. Jangan asal pilih lantaran saking lapar ingin segera kenyang. Dengan begitu kamu tak berada dalam kondisi tertekan.


Sebetulnya masih ada banyak lagi bentuk kenakalan para pedagang. Setidaknya ada 5 hal yang patut diperhatikan agar tak dicurangi. Lebih jelasnya silakan baca tulisan di website Banjirembun.com ini "5 Tips Ampuh Agar Tak Dicurangi Penjual".


Komentar

Baca juga postingan berikut:

5 Perbedaan Tour Leader dengan Tour Guide

Arti Kata "Dolanku", Ternyata Ada di KBBI

Berwisata Ria di Lapangan Rampal Kota Malang

5 Manfaat Berwisata di Air Terjun

5 Macam Wisata Religi dalam Agama Islam