Dengan Solo Traveling, Orang Bakal Mudah Mencari Jati Dirinya

Harimau sejati tak akan menjadi raja kandang. Ia bukanlah kucing manja yang hanya menguasai satu rumah tapi takut berkunjung ke rumah lain. Begitu pula para penyuka solo traveling. Dia tidak bakal merasa jadi pemenang sebelum jalan-jalan jauh.


Diakui atau tidak, traveling dapat dijadikan sarana mencari jati diri. Apalagi ketika dilakukan sendirian atau disebut solo traveler. Bagaimana tidak, perjalanan jauh akan membuat orang harus pintar menempatkan diri di lingkungan baru.


Mesti perhatian pada hal-hal apa yang pantas untuknya. Sebab, ia bakal mendapat berbagai pengalaman, tantangan, atau bahkan "kehidupan" baru. Tak pernah ditemukan sebelumnya. Dengan itu, ia sadar tentang bagaimana jati dirinya.


Dunia baru itulah yang akan mendidik dirinya. Mendapat ilmu, pengetahuan, dan wawasan yang tak pernah diberikan oleh sekolah. Pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi guru baginya sehingga membuatnya lebih matang.


Selama seseorang masih nyaman di rumah dan meninggali kota kelahiran, selama itulah ia masih terasa aman dan nyaman. Selama itulah ia hidup dalam dunia yang menidurkan. Jati dirinya tak terasah. Akhirnya hilang begitu saja.


Memang harus diakui. Barangkali ada orang yang tak begitu suka traveling sendirian. Namun, tidak traveling sama sekali dalam jangka lama dapat menimbulkan gangguan mental. Mudah marah, gampang murung, dan yang semacamnya.


Padahal marah, mudah tersingguh, dan gampang murung bukanlah jati dirinya. Sebenarnya ia adalah orang periang. Akan tetapi karena jarang traveling menjadikan jiwanya tak stabil. Sebab pola pikirnya jadi sempit. Jiwa dan raganya terkurung.


Jangankan mau memikirkan siapa sebenarnya dirinya? Untuk apa ia hidup? Ke arah mana jalan hidupnya? Apa yang ia butuhkan dalam hidup? Apa saja yang harus dilakukan dalam hidupnya? Memikirkan tentang kebebasan dirinya saja terasa berat dan tak percaya diri.

Ilustrasi sedang merenung saat solo traveling (sumber gambar)


Dengan solo traveling kamu bisa dapat merenung. Ternyata betapa berartinya hidupmu. Masih banyak orang-orang yang lebih susah. Tak sedikit yang butuh bantuan. Itu bakal menggugahmu untuk bangkit. Serta bertekat membantu.


Traveling sendirian membuat orang belajar bagaimana agar bisa bertahan tanpa bantuan orang dekat. Membuat keputusan sendiri yang tentunya bakal ditanggung sendiri. Mengujicoba sejauh mana batas ketahanan dan toleransi diri.


Hidupmu bakal didetoksifikasi alias dibersihkan. Selama ini terlalu asyik, termanjangkan, atau justru teracuni sajian-sajian "sampah" di TV maupun internet. Saat jalan-jalan kamu bakal tak sempat untuk melakukan hal yang sering dilakukan tiap hari.


Hal berbeda tatkala kamu traveling ramai-ramai. Tidak akan bebas menentukan pilihan. Serba canggung serta salah tingkah sering terjadi dalam perjalanan hingga di lokasi wisata. Keinginan dan kebutuhanmu mungkin jadi terganggu.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

5 Perbedaan Tour Leader dengan Tour Guide

Arti Kata "Dolanku", Ternyata Ada di KBBI

Berwisata Ria di Lapangan Rampal Kota Malang

5 Manfaat Berwisata di Air Terjun

5 Macam Wisata Religi dalam Agama Islam